
Menjadi Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) bukan hanya soal keberanian untuk merantau ke negeri orang, tetapi juga kesiapan menghadapi tantangan hidup di lingkungan yang sangat berbeda - salah satunya adalah language barrier atau hambatan bahasa.
Language barrier atau hambatan bahasa adalah kondisi ketika dua pihak atau lebih mengalami kesulitan untuk berkomunikasi secara efektif karena perbedaan bahasa. Hambatan ini bisa terjadi dalam berbagai konteks, mulai dari interaksi antarindividu, lingkungan kerja internasional, hingga layanan publik seperti rumah sakit atau lembaga pemerintahan.
Di era globalisasi seperti sekarang, interaksi lintas budaya dan bahasa menjadi hal yang umum. Namun, perbedaan bahasa tetap menjadi tantangan besar yang bisa menimbulkan kesalahpahaman, frustrasi, bahkan konflik. Hambatan bahasa adalah salah satu tantangan utama yang sering dihadapi CPMI, terutama saat ditempatkan di negara-negara yang menggunakan bahasa asing yang tidak mereka kuasai, seperti Jepang, Korea Selatan, Jerman, atau negara-negara Timur Tengah.
Bagi CPMI, kondisi ini bisa mempersulit berbagai aspek kehidupan, mulai dari pekerjaan sehari-hari, interaksi dengan pemberi kerja, hingga saat membutuhkan layanan kesehatan atau hukum.
Dampak Language Barrier bagi CPMI
1. Kesalahpahaman dengan Pemberi Kerja
Ketidaktahuan terhadap perintah kerja atau instruksi dari atasan bisa menyebabkan kesalahan kerja yang berujung pada teguran, pemotongan gaji, bahkan pemutusan kontrak.
2. Kesulitan dalam Menyampaikan Kebutuhan atau Keluhan
CPMI sering tidak bisa menyampaikan keluhan, kebutuhan pribadi, atau masalah kesehatan karena keterbatasan bahasa.
3. Rasa Terisolasi dan Kesepian
Tidak bisa berbicara atau memahami bahasa lokal membuat CPMI sulit berinteraksi dengan orang sekitar, sehingga merasa terasing dan kesepian.
4. Rentan Terhadap Eksploitasi dan Kekerasan
Banyak kasus di mana CPMI tidak menyadari hak-haknya karena tidak bisa membaca kontrak kerja dengan baik atau tidak tahu cara mencari bantuan saat terjadi pelanggaran hak.
Penyebab Umum Hambatan Bahasa bagi CPMI
• Minimnya pelatihan bahasa sebelum keberangkatan
• Motivasi belajar bahasa yang rendah
• Metode pelatihan yang tidak efektif
• Ketergantungan pada pihak ketiga saat komunikasi (misalnya: penerjemah)
• Perbedaan budaya dan konteks bahasa yang digunakan
Upaya Mengatasi Language Barrier
1. Pelatihan Bahasa yang Lebih Intensif dan Praktis
Balai Latihan Kerja (BLK) atau Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) harus memberikan pelatihan bahasa yang tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga praktik komunikasi sehari-hari, termasuk istilah kerja dan situasi darurat. Seperti halmya pelatihan bagi CPMI yang dilaksanakan oleh LTSA PMI, memberikan pelatihan Bahasa teknis sesuai dengan Bahasa negara penempatan, hal ini juga merupakan salah satu upaca pencegahan terjadi nya language barrier bagi para CPMI tersebut.
2. Belajar Mandiri Sebelum dan Sesudah Pelatihan
CPMI disarankan memanfaatkan aplikasi belajar bahasa, video online, atau media sosial sebagai sumber belajar tambahan.
3. Penguatan Soft Skills Komunikasi
Selain bahasa, kemampuan untuk memahami ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan intonasi sangat penting untuk mendukung komunikasi yang efektif.
4. Pemanfaatan Teknologi Penerjemah
Aplikasi penerjemah suara atau teks dapat membantu CPMI saat menghadapi situasi yang tidak dipahami. Namun, ini hanya sebagai solusi sementara, bukan pengganti belajar bahasa.
Language barrier bukanlah masalah sepele bagi CPMI. Hambatan bahasa bisa menjadi akar dari berbagai masalah, mulai dari konflik kerja hingga eksploitasi. Oleh karena itu, penting bagi CPMI untuk mempersiapkan diri secara matang, terutama dalam penguasaan bahasa asing, sebelum berangkat ke luar negeri.
Pelatihan yang memadai, kemauan untuk belajar, dan dukungan dari berbagai pihak adalah kunci agar CPMI bisa bekerja dengan aman, nyaman, dan bermartabat di negeri orang.
Penulis: Ira Hendina P Instruktur Mahir LTSA PMI Jabar



