
Belakangan ini, pembahasan mengenai konten video “Mindfulness in the Age of Bad news” yang dibuat oleh public figure ternama di Indonesia, Maudi Ayunda menarik perhatian publik. Gagasan sederhananya adalah bagaimana seseorang tetap menjaga kesehatan mental di tengah derasnya informasi mengenai berbagai persoalan, konflik, bencana, ketidakadilan, dan kabar buruk yang hadir hampir tanpa jeda melalui media sosial.
Salah satu pendekatan yang sering muncul adalah mengambil jarak dari informasi. Kita dapat memilih kapan membaca berita, kapan berhenti menggulir media sosial, dan kapan memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dari berbagai persoalan yang terjadi di luar sana. Dalam konteks kehidupan pribadi, pilihan tersebut tentu dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga keseimbangan diri.
Namun, bagaimana jika kita berbicara tentang Aparatur Sipil Negara (ASN)?
Apakah ASN juga dapat sepenuhnya log out dari bad news?
Jawabannya mungkin tidak sesederhana itu.
Ketika Bad News Bukan Sekadar Berita
Bagi sebagian orang, berita buruk adalah informasi yang muncul di layar ponsel. Setelah dibaca, seseorang dapat memilih untuk menutup aplikasi dan melanjutkan aktivitasnya.
Tetapi bagi ASN yang bekerja di ruang pelayanan publik, bad news dapat memiliki arti yang berbeda.
Berita mengenai masyarakat yang kesulitan memperoleh pelayanan, korban tindak pidana perdagangan orang, pekerja migran yang mengalami masalah di negara penempatan, keluarga yang kehilangan anggota keluarganya, atau masyarakat yang tidak memahami prosedur pelayanan bukan hanya sekadar informasi.
Di balik berita tersebut terdapat manusia.
Ada keluarga yang menunggu kepastian. Ada masyarakat yang membutuhkan penjelasan. Ada persoalan yang membutuhkan koordinasi. Dan ada ASN yang memiliki tanggung jawab untuk hadir dalam proses tersebut.
Dengan demikian, tantangan ASN bukan hanya bagaimana menjaga kesehatan mental ketika berhadapan dengan banyak berita buruk, tetapi juga bagaimana tetap memiliki kepedulian tanpa kehilangan kemampuan untuk bertindak secara profesional.
Mindfulness Bagi ASN Bukan Berarti Menjauh
Mindfulness sering dipahami sebagai kemampuan untuk hadir secara sadar pada saat ini, mengenali pikiran dan emosi, serta tidak membiarkan diri sepenuhnya dikuasai oleh tekanan.
Dalam konteks ASN, kemampuan tersebut justru sangat penting.
ASN tentu bukan manusia yang kebal terhadap tekanan. ASN juga dapat merasa lelah, kecewa, marah, sedih, atau jenuh ketika menghadapi persoalan masyarakat yang kompleks dan berulang.
Karena itu, menjaga kesehatan mental tetap merupakan bagian penting dari profesionalitas.
Namun, mindfulness bagi ASN seharusnya tidak berhenti pada kemampuan untuk mengatakan, “Saya sudah cukup tahu, sekarang saya memilih untuk tidak peduli.”
Sebaliknya, mindfulness dapat dimaknai sebagai kemampuan untuk mengatakan:
“Saya menyadari persoalan ini. Saya memahami bahwa persoalan ini berat. Saya tidak harus membawa seluruh beban persoalan ini ke dalam diri saya, tetapi saya tetap harus melakukan bagian saya.”
Di sinilah letak perbedaannya.
ASN tidak harus menyelesaikan seluruh persoalan masyarakat. Namun, ASN memiliki tanggung jawab untuk memberikan respons sesuai dengan tugas, kewenangan, dan kapasitasnya.
Dari Empati Menjadi Tindakan
Salah satu risiko ketika terlalu sering terpapar bad news adalah munculnya kelelahan emosional. Berita buruk yang terus berulang dapat membuat seseorang menjadi terbiasa, bahkan akhirnya tidak lagi memberikan respons emosional.
Dalam pelayanan publik, kondisi tersebut perlu diwaspadai.
Sebab, ASN tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga kepekaan terhadap kondisi masyarakat.
Empati tidak berarti ASN harus ikut larut dalam setiap masalah yang dihadapi masyarakat. Empati justru perlu dikelola agar dapat menghasilkan tindakan yang tepat.
Ketika seorang ASN menerima pengaduan masyarakat, misalnya, rasa kasihan saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah kemampuan mendengarkan, memahami persoalan, memeriksa informasi, menjelaskan prosedur, melakukan koordinasi, dan memberikan pelayanan sesuai ketentuan.
Dengan kata lain:
Empati tanpa tindakan hanya menghasilkan simpati.
Tindakan tanpa empati berisiko menghasilkan pelayanan yang kaku.
ASN membutuhkan keduanya.
Ketika Bad News Menjadi Bagian dari Pekerjaan
Dalam pelayanan pelindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI), perbedaan tersebut menjadi semakin nyata.
Ketika seorang PMI mengalami persoalan di luar negeri, berita tersebut mungkin hanya menjadi satu informasi di antara ribuan berita yang beredar setiap hari.
Namun bagi petugas pelayanan PMI, persoalan tersebut dapat menjadi awal dari rangkaian pekerjaan.
Ada pengaduan yang harus ditindaklanjuti. Ada keluarga yang harus diberikan informasi. Ada koordinasi dengan berbagai pihak. Ada dokumen yang perlu diperiksa. Dalam kondisi tertentu, terdapat pula kebutuhan pendampingan dan fasilitasi pemulangan.
Di titik tersebut, bad news berubah menjadi tanggung jawab pelayanan.

Seorang ASN tidak dapat memilih untuk tidak mengetahui persoalan hanya karena persoalan tersebut melelahkan secara emosional. Tetapi ASN juga tidak boleh membiarkan dirinya tenggelam dalam setiap persoalan hingga kehilangan kemampuan untuk bekerja secara objektif.
Maka, mindfulness menjadi penting bukan untuk membuat ASN menjauh dari persoalan, tetapi untuk membuat ASN mampu tetap hadir tanpa kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Tidak Semua Harus Dibawa Pulang
Ada pelajaran penting yang tetap dapat diambil dari gagasan “Mindfulness in the Age of Bad News”.
ASN memang perlu memiliki batas.
Kepedulian terhadap masyarakat bukan berarti membawa seluruh persoalan masyarakat ke rumah. Menjadi pelayan publik bukan berarti harus memikirkan seluruh kasus setelah jam kerja selesai.
Ada saatnya ASN perlu berhenti sejenak, menarik napas, beristirahat, dan memberikan ruang bagi dirinya sendiri.
Namun, mengambil jeda berbeda dengan mengabaikan.
Kita dapat berhenti membaca berita malam ini tanpa berhenti menjadi ASN yang peduli esok pagi.
Kita dapat menjaga kesehatan mental tanpa kehilangan kepekaan sosial.
Kita dapat mengakui bahwa sebuah persoalan berada di luar kemampuan kita tanpa berhenti melakukan apa yang memang menjadi bagian dari tanggung jawab kita.
ASN dan Tantangan untuk Tetap Waras sekaligus Peduli
Pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan apakah ASN boleh log out dari bad news.
ASN tentu membutuhkan waktu untuk log out dari pekerjaan, informasi, dan tekanan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Setelah kita kembali, apakah kita masih mampu melihat persoalan masyarakat dengan jernih dan melakukan sesuatu yang memang menjadi tanggung jawab kita?
Menjadi ASN berarti berada di antara dua kebutuhan yang harus berjalan bersama: menjaga diri dan melayani masyarakat.
Jika terlalu larut dalam persoalan, ASN dapat kehilangan energi dan kejernihan dalam bekerja. Tetapi jika terlalu jauh mengambil jarak, ASN dapat kehilangan sensitivitas terhadap realitas yang dihadapi masyarakat.
Karena itu, mindfulness bagi ASN mungkin bukan tentang menjauh dari bad news, melainkan tentang mengelola diri ketika berhadapan dengan bad news agar kepedulian dapat berubah menjadi pelayanan.
Sebab, bagi sebagian orang, bad news cukup berhenti sebagai berita.
Tetapi bagi ASN, terkadang bad news adalah panggilan untuk hadir.
Dan ketika panggilan itu datang, ASN tidak harus menjadi penyelamat semua orang. Cukup hadir, bekerja sesuai tugas, menjaga integritas, dan memberikan pelayanan terbaik yang dapat dilakukan.
ASN boleh mengambil jeda. ASN boleh merasa lelah. ASN boleh menjaga dirinya. Tetapi ketika masyarakat membutuhkan pelayanan, kepedulian tidak boleh ikut di-log out.
Pada akhirnya, bagi seorang ASN melihat fenomena “Mindfulness in the Age of Bad News” semata-mata bukan dari sisi kontroversi personal atau memperdebatkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Fenomena tersebut justru dapat menjadi ruang refleksi bagi kita, khususnya ASN, untuk memahami kembali bagaimana seharusnya bersikap di tengah derasnya persoalan dan informasi publik. ASN tetap membutuhkan jeda untuk menjaga kesehatan mental, tetapi pada saat yang sama memiliki tanggung jawab untuk tetap peka terhadap persoalan masyarakat. Sebab, bagi ASN, mindfulness bukan sekadar kemampuan untuk menjauh dari bad news, melainkan kemampuan untuk tetap sadar, tenang, dan jernih dalam menghadapinya, sehingga kepedulian tidak berhenti sebagai perasaan, tetapi dapat diwujudkan melalui tindakan dan pelayanan yang nyata.
Penulis: Hanan Nurul Aini PSM Ahli Pertama LTSA PMI Jabar



